Monthly Archive June 2017

Festival Anti Korupsi Fakultas Ilmu Sosial

[:id]Rabu (14/6) Mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menyelenggarakan Festival Anti Korupsi, bertempat di halaman Gedung C6 Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 440 peserta. Ke depan, mereka siap menjadi tunas integritas dan melawan penyebaran tindak korupsi.

Kegiatan yang bertema “Masa Depan Indonesia tanpa Korupsi” ini, menghadirkan tiga pembicara yakni Dr. Eko Handoyo M.Si., Suharsi S.KM., M.Kes., dan Zaka Akhmad S.IP., S.H.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Drs. Moh. Solehatul Mustofa M.A. mengingatkan kembali akan bahaya korupsi. Ia mengatakan bahwa “korupsi adalah hal yang merugikan negara. Korupsi diibaratkan seperti rayap yang memakan kayu dari dalam, yang membuat kayu terlihat kuat di luar, namun keropos di dalam. Oleh karena itu, pendidikan antikorupsi merupakan hal yang penting dalam menanggulanginya”.

Eko Handoyo menjelaskan masa depan Indonesia akan menjadi lebih baik tanpa korupsi. Sedikit maupun banyak, korupsi pasti akan menimbulkan dampak dan akibat bagi pelakunya.

“Mungkin tidak sekarang, tapi lambat laun dampak dari korupsi pasti akan terlihat. Jika dihubungkan dengan konteks agama, dampak tersebut bisa didapat saat masih hidup di dunia ataupun di akhirat kelak” jelas Dosen Pengampu Mata Kuliah Pendidikan Anti Korupsi tersebut.

Sementara itu, Suharsi menjelaskan bahwa kejahatan di Indonesia sudah luar biasa. Untuk menanggulanginya, perlu perubahan kearah yang lebih baik. Generasi muda harus mampu menjaga integritas dan memiliki dedikasi bagi bangsa dan negara. Menurutnya, sudah saatnya generasi muda menerima estafet kepemimpinan bangsa.

Selanjutnya, Founder Sekolah Integritas Zaka Akhmad membahas terkait bentuk perilaku koruptif yang sering dijumpai di ranah Pendidikan.

“Perilaku koruptif itu banyak, seperti mencontek, datang terlambat, titip presensi, dan lain sebagainya. Perilaku tersebutlah yang nantinya menjadi cikal bakal tindakan korupsi” jelasnya.

Setelah paparan materi, acara dilanjutkan dengan tiga permainan antikorupsi yang dilakukan oleh peserta festival. Permainan yang diinisiasi oleh KPK ini, diharapkan dapat menanamkan nilai antikorupsi pada peserta.

 

Editor: Didi Pramono[:]

Kajian Fenomena Kerukunan Agama di Indonesia

[:id]Rabu (14/6) bertepatan dengan Bulan Ramadhan ini, Fakuktas Ilmu Sosial mengadakan kegiatan Kajian Fenomena Kerukunan Agama di Indonesia. Pembicara pada kesempatan kali ini adalah KH. M. Thoyyib Farchany.

Acara ini sekaligus dirangkaikan dengan Buka Puasa Bersama bagi segenap Dosen dan Tenaga Kependidikan.

“Mudah-mudahan acara yang sederhana ini, bisa semakin mempererat tali silaturrahmi warga FIS, dan sekaligus wujud rasa peduli kita pada sesama. InsyaAllah nanti akan ada sedikit santunan yang kami berikan untuk Panti Asuhan Al-Hidayah.” papar Mustofa, Dekan FIS.

Pada kesempatan ini, KH. M. Thoyyib Farchany menyampaikan bahwa “Masing-masing kita harus menanamkan sikap Hisbul Wathan, cinta tanah air.  Saya sangat mengecam aksi-aksi intoleransi dan aksi-aksi terorisme. Membawa ransel berisi bom, bunuh diri, melukai sesama, menimbulkan kecemasan masyarakat. Ini keliru, ini bukan jihad.”

“Mari kita bersama-sama menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia, negeri yang kita cintai ini. Perbedaan itu suatu keniscayaan, yang harus kita rawat, kita jaga, dan kita lestarikan. Dunia akan indah jika kita saling asah, saling asih, saling asah.” tambah KH. M. Thoyyib.

 

Oleh: Didi Pramono[:]

FGD “Partisipasi Masyarakat dalam Implementasi Undang-Undang Desa” bersama IRE Yogyakarta

Rabu (7/6) Pusat Kajian dan Pengembangan Masyarakat Desa Jurusan Sosiologi dan Antropologi FIS UNNES mengadakan Focus Group Discussion bersama Titok Hariyanto dari Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta.

Kegiatan FGD ini diikuti oleh segenap Dosen Jurusan Sosant dan perwakilan mahasiswa yang tertarik dengan kajian-kajian desa. Secara resmi FGD dibuka oleh Moh. Solehatul Mustofa selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial.

“Kegiatan FGD ini sangat positif, terlebih menghadirkan Bapak Titok Hariyanto dari IRE Yogyakarta. Mudah-mudahan FGD ini menghasilkan pemahaman yang komprehensif mengenai desa, partisipasi masyarakatnya, dan wajah desa saat ini. Selain itu, semoga ke depan juga terjalin lagi kerjasama yang konstruktif antara Jurusan Sosant dengan IRE, utamanya pada program-program riset.” Papar Mustofa dalam sambutannya.

Pada kesempatan ini Titok memulai diskusinya dengan mendeskripsikan buku baru yang disusunnya dengan tim, tentang “Desa: Situs Baru Demokrasi Lokal”. Lebih rinci, Titok menjelaskan panjang lebar tentang implikasi UU Desa terhadap lahirnya ruang-ruang demokratisasi desa.

Situs-situs baru demokrasi lokal inilah yang kemudian memunculkan inisiatif-inisiatif baru yang lahir dari akar rumput (grass root). Misal di Desa Panggungharjo, muncul inisiatif warga untuk membuat program “1 rumah 1 sarjana” dan “bidan keliling – untuk kesehatan lansia”. Misal lagi, desa Langgeran Gunungkidul bisa bertransformasi menjadi Desa Wisata Nomor 1 se-ASEAN berkat inisiatif warga untuk membuat desa sadar wisata dengan mengoptimalkan gunung purbayang ada di lingkungaannya. Selain itu, Desa Lenggeran juga menginisiasi lahirnya desa inklusif yang ramah terhadap difabel. Disamping itu, masih banyak lagi desa-desa yang berubah wajah berkat munculnya situs baru demokrasi lokalnya.

 

Oleh: Didi Pramono

UNDANGAN: DISKUSI RABUAN DAN BEDAH BUKU FIS

[:id]RABUAN 2017

Dekan FIS UNNES mengundang dosen dan mahasiswa FIS UNNES untuk hadir dan berpartisipasi dalam acara DISKUSI RABUAN & BEDAH BUKU FIS UNNES.

Diskusi Rabuan  & Bedah Buku: Dari Industri Gula Hingga Batik Pekalongan: “Sejarah Sosial Ekonomi Pantai Utara Jawa pada Masa Kolonial Belanda”.

Pembicara: Prof. Dr. Wasino, M.Hum. (UNNES) dan Dr. Endah S.H., M.Hum. (UNDIP)

Waktu & Tempat: Rabu, 7 Juni 2017, Pukul 08.00 WIB – selesai. Ged. C7 Lantai 3.

 

 

Semarang, 5 Juni 2017

Dekan FIS UNNES,

Drs. Moh Solehatul Mustofa, M.A.

[:]