(024) 85xxxx1

FIS
Universitas Negeri Semarang
October 22, 2019

PROF. DR. WASINO, M.HUM. PEMBICARA UTAMA SEMINAR NASIONAL SEJARAH DI UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Prof. Dr. Wasino, M.Hum. Guru Besar Sejarah FIS UNNES mendapat kehormatan sebagai pembicara utama dalam Seminar Nasional Sejarah IV yang  diadakan oleh Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) pada Sabtu lalu (19/10).

Seminar dengan tema “Pendidikan Sejarah Abad ke 21: Sinergi Pemerintah, Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha” menampilkan tiga pembicara utama, yaitu: Prof. Dr. Wasino dari Universitas Negeri Semarang (UNESS), Dr. Leli Yulifar M.Pd dari UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), dan Syafruddin Yusuf, M.Pd, Ph.D dari Unsri.

Prof. Dr. Wasino menyampaikan materi tentang “Pendidikan sejarah dan pengembangan etos kewirausahaan” menekankan pentingnya membaca ulang pendidikan sejarah. ”Selama ini di kalangan masyarakat umum, sejarah selalu dikaitkan dengan kekunoan, masa lampau, yang tak ada relevansinya dengan masa kini,” katanya. Oleh karena dipandang kuno, tidak modern maka perhatian terhadap sejarah di kalangan umum kurang baik. Pandangan ini disebabkan sejarah yang diajarkan di lembaga pendidikan selalu mengutamakan tema sejarah politik yang lebih menekankan pada aspek kekuasaan dan perang.

Dalam sejarah politik ditekankan pada pergantian kekuasaan dan perang. Meskipun secara teoretik dalam pembelajarannya harus mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, namun dalam realitasnya dalam proses pembelajaran lebih ditekankan pada aspek kognitif saja. Hafalan tentang peristiwa masa lalu menjadi aspek utama dan kurang memahami makna di balik peristiwa sejarah.

Dalam kaitan dengan dunia usaha menurut Wasino, bangsa Indonesia sudah mengenal kewirausahaan sejak masa lalu. Masyarakat dan penguasa sudah terlibat dalam perdagangan dengan bangsa-bangsa asing. Tradisi Kewirausahaan tergeser ketika VOC memegang memonopoli jaringan dagang di wilayah Nusantara. Tradisi ini semakin bergeser ketika dilaksanakannya Tanam Paksa (1830-1870) dengan beralihnya tradisi berdagang menjadi tradisi pekerja (buruh).